Pendahuluan
Mari kita membaca Kisah Para Rasul 2:41-47.
Setelah Petrus dengan setia berkhotbah tentang injil, sekitar tiga ribu orang menjadi orang percaya. Sungguh menakjubkan!
Suara Petrus pasti sangat kuat. Sedikitnya tiga ribu orang dapat mendengar khotbahnya tanpa mikrofon. Seorang penginjil bernama George Whitefield, juga memiliki suara yang kuat. Sekitar 20.000 orang dapat mendengarnya tanpa mikrofon.
Yang lebih menakjubkan lagi adalah banyak orang menjadi orang percaya. Inilah KKR yang sejati karena berlandaskan pada Injil yang sejati, bukan injil palsu seperti injil kemakmuran.
Di Indonesia ada banyak KKR palsu yang disertai injil palsu dan kesembuhan palsu. Banyak orang tertarik kepada Yesus karena injil kemakmuran, bukan karena Injil yang sejati.
Jika Injil sejati tidak diberitakan, mungkin akan ada banyak orang yang menghadiri gereja, tetapi mereka bukan sungguh-sungguh anak-anak Tuhan.
Hal ini tidak berkenan kepada Tuhan. Gereja yang sejati lahir melalui Injil yang sejati, bukan injil palsu.
Petrus memberitakan Injil yang sejati, dan terjadilah kebangunan rohani yang sejati. Gereja pertama dalam sejarah memiliki sekitar tiga ribu anggota.
Jadi, seperti apa kehidupan jemaat ini? Bagaimana mereka hidup dan berhubungan satu sama lain serta dengan orang-orang yang belum percaya?
Dengan memperhatikan kehidupan jemaat mula-mula, kita dapat melihat tujuh ciri gereja yang alkitabiah. Ketujuh ciri ini juga seharusnya menjadi ciri setiap gereja, termasuk gereja kita.
Marilah kita memahami ketujuh ciri gereja yang alkitabiah ini dan mengikutinya.
1. Bertekun dalam Ajaran Para Rasul
Pertama, jemaat pertama dalam sejarah dunia bertekun dalam pengajaran para rasul. Mengapa? Karena para rasul ditunjuk langsung oleh Yesus sebagai utusan-Nya. Mereka tidak sama dengan para pendeta yang ditetapkan oleh manusia. Para rasul ditunjuk langsung oleh Yesus, bukan melalui manusia lain.
Mereka juga menuliskan Kitab Suci untuk ditaati oleh orang Kristen. Tulisan-tulisan itu sekarang ada di tangan kita, yaitu Alkitab. Sekarang tidak ada lagi rasul, tetapi kita memiliki ajaran mereka di dalam Alkitab.
Gereja yang alkitabiah bertekun pada Alkitab sebagai otoritas tertinggi – bukan sekadar salah satu otoritas, melainkan otoritas tertinggi. Tidak menaati Alkitab sama dengan tidak menaati Tuhan.
Semua pemimpin sejati dalam gereja harus tunduk kepada otoritas Alkitab. Pemimpin gereja tidak memiliki otoritas yang setara dengan atau lebih tinggi daripada Alkitab. Mereka berada di bawah otoritas Alkitab. Karena itu, mereka harus mendasarkan kesimpulan mereka pada Alkitab.
Ada banyak gereja yang tidak alkitabiah karena menempatkan pemimpin gereja sebagai otoritas tertinggi, bukan Alkitab. Apa pun yang dikatakan pemimpin mereka dianggap sebagai hukum, bukan apa yang dikatakan Alkitab. Saudara harus menjauh dari gereja-gereja seperti itu. Gereja-gereja itu bukanlah gereja yang sejati.
2. Bersekutu dan Memecahkan Roti
Ciri kedua gereja yang alkitabiah adalah persekutuan. Persekutuan berarti menjalani kehidupan bersama dengan orang-orang Kristen lainnya berdasarkan Yesus yang kita miliki bersama. Orang Kristen memiliki hal terpenting dalam kehidupan, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, Pencipta dan Raja dunia.
Bagi jemaat mula-mula, pertemuan gereja bukanlah tontonan seperti konser. Mereka tidak sekadar datang, menonton orang lain tampil, lalu pulang tanpa memiliki hubungan yang erat satu sama lain sepanjang minggu.
Sebaliknya, mereka menjalani kehidupan bersama dan makan bersama. Memecahkan roti berarti makan bersama.
Ketika jemaat berkumpul sebagai gereja pada hari Minggu, mereka juga makan bersama, dan perjamuan itu mencapai puncaknya dalam Perjamuan Kudus. Itulah yang dilakukan jemaat Korintus dalam 1 Korintus 11.
Karena orang-orang Kristen menjalani kehidupan yang erat bersama, Alkitab memakai gambaran tubuh manusia untuk menjelaskan gereja Yesus. Gereja sering disebut tubuh Kristus.
Tubuh manusia terdiri dari banyak anggota yang dipersatukan menjadi satu tubuh. Demikian juga dengan gereja: setiap anggota gereja dipersatukan secara erat dalam keluarga Tuhan, sedangkan Yesus adalah kepala tubuh itu, yaitu Raja atas gereja.
Gambaran tubuh menunjukkan ikatan yang erat di antara orang-orang percaya dalam sebuah gereja. Kita harus dipersatukan dalam kepercayaan dan tujuan kita di bawah kepemimpinan Yesus, Kepala kita.
Beginilah 1 Korintus 12:12-26 menggambarkan hubungan yang erat di antara anggota-anggota gereja.
1 Korintus 12:12-26 berbunyi:
“12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. 13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. 15 Andai kata kaki berkata, “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 16 Andai kata telinga berkata, “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? 17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? 18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 19 Andai kata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? 20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. 21 Jadi, mata tidak dapat berkata kepada tangan, “Aku tidak membutuhkan engkau.” Demikian pula kepala tidak dapat berkata kepada kaki, “Aku tidak membutuhkan engkau.” 22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. 23 Kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus, dan terhadap anggota-anggota kita yang kurang layak diperlihatkan, kita berikan perhatian khusus. 24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang layak diperlihatkan. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, 25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 26 Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”
Luar biasa. Di sini sangat jelas bahwa orang-orang Kristen dipersatukan dalam satu tubuh, yaitu, jemaat Yesus. Ini berarti, orang-orang Kristen dipersatukan satu sama lain. Kita saling membutuhkan untuk bertumbuh secara rohani dan melaksanakan Amanat Agung.
Di dalam Alkitab terdapat banyak perintah “saling” yang harus dilakukan orang Kristen, seperti saling mengasihi, saling menguatkan, saling mengampuni, saling menegur, dan saling bersabar. Semua perintah ini diberikan untuk menolong kita bertumbuh secara rohani. Itulah sebabnya kita saling membutuhkan untuk bertumbuh secara rohani. Kita juga saling membutuhkan untuk melaksanakan Amanat Agung. Tuhan telah memberikan karunia roh kepada setiap orang, dan karunia setiap orang itu unik serta berharga untuk mencapai tujuan Tuhan.
Para pemimpin tidak dapat mengerjakannya sendirian. Kita membutuhkan partisipasi setiap orang untuk melaksanakan Amanat Agung.
Persekutuan berarti sekelompok orang percaya menjalani kehidupan bersama di dalam Yesus. Persekutuan bukan sekadar acara yang dihadiri seseorang pada hari Natal dan Paskah atau sesekali saja.
Gereja adalah keluarga rohani yang memiliki hubungan erat. Kita dipersatukan satu sama lain dalam Yesus, dalam kebenaran, dalam pelayanan kepada Tuhan.
Gereja mula-mula bertemu bukan hanya pada hari Minggu, tetapi juga sepanjang minggu untuk saling membangun di dalam Yesus. Kita juga seharusnya bertemu sepanjang minggu untuk saling membangun di dalam Yesus.
3. Berdoa
Ketiga, jemaat mula-mula juga bertekun dalam doa. Doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Kehidupan kita seharusnya dipenuhi dengan doa, dan ibadah kita pada hari Minggu seharusnya juga ditandai oleh doa. Kita berdoa secara pribadi dan juga bersama-sama sebagai gereja. Gereja yang tekun berdoa adalah gereja yang bergantung kepada Tuhan dan mengalami kuasa-Nya. Kita lemah, tetapi melalui doa kita, Tuhan memampukan kita untuk semakin menyerupai Yesus, mengalahkan dosa, dan melaksanakan Amanat Agung.
Gereja yang tidak berdoa adalah gereja yang lemah dan tidak berdaya karena mengandalkan kekuatannya sendiri, padahal kekuatan manusia lemah dan tidak berarti. Kita mungkin mengetahui banyak kebenaran, tetapi jika kita tidak berdoa, kita tidak akan sanggup menaati seluruh kebenaran Alkitab atau melaksanakan Amanat Agung. Jemaat mula-mula berdoa; karena itu, kita pun harus bertekun berdoa.
4. Takjub akan Karya Tuhan melalui Umat-Nya
Keempat, jemaat mula-mula juga takjub akan karya Tuhan yang besar melalui para rasul. Tuhan memberikan kepada para rasul karunia roh untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan. Karunia-karunia ini tidak dilakukan hanya melalui doa, tetapi melalui perintah. Dalam Kisah Para Rasul 3:6, misalnya, Petrus memerintahkan orang lumpuh untuk bangkit dan berjalan, dan seketika itu juga orang lumpuh disembuhkan.
Petrus tidak berdoa lalu menunggu Tuhan menjawab beberapa bulan kemudian. Ia juga tidak berdoa lalu Tuhan entah bagaimana mengirim seorang dokter untuk menyembuhkan orang itu. Sebaliknya, Petrus memerintahkannya untuk bangkit dan sembuh, dan ia disembuhkan seketika. Setiap kali Petrus memerintahkan seseorang untuk sembuh, orang itu benar-benar disembuhkan seketika. Itulah karunia penyembuhan.
Kita adalah orang Kristen biasa, bukan rasul. Kita dapat berdoa agar Tuhan memberikan kesembuhan. Tuhan mungkin akan menjawab doa kita. Kalau ada kesembuhan, ini bukan berarti kita sedang menggunakan karunia penyembuhan seperti Rasul. Itu berarti Tuhan dengan penuh anugerah menjawab doa kita. Hal ini sama sekali berbeda dari karunia penyembuhan atau karunia mukjizat yang dimiliki para rasul.
Mengapa Tuhan memberikan karunia-karunia khusus ini kepada para rasul? Karena mereka perlu mengadakan mukjizat untuk meneguhkan otoritas mereka.
Dalam 2 Korintus 12:12, Paulus berkata, “Tanda-tanda seorang rasul telah diperlihatkan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran melalui tanda-tanda, mukjizat-mukjizat dan kuasa-kuasa.”
Kebenaran bahwa para rasul perlu mengadakan mukjizat untuk meneguhkan otoritas mereka bukanlah hal baru. Pola ini sudah dimulai dalam Perjanjian Lama.
Para nabi yang memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Tuhan perlu mengadakan mukjizat untuk menunjukkan bahwa Tuhan telah mengutus mereka.
Itulah sebabnya Musa harus mengadakan mukjizat untuk membuktikan kepada orang Yahudi bahwa Tuhan telah mengutusnya.
Jadi, sama dengan para rasul. Mereka harus mengadakan mukjizat untuk membuktikan otoritas mereka.
Nah, Efesus 2:20 berkata bahwa para rasul dan nabi adalah dasar gereja, yaitu fondasi, sedangkan Yesus adalah batu penjuru.
Setelah para rasul dan nabi itu meninggal, tidak ada lagi rasul dan nabi. Setelah fondasi diletakkan, tidak perlu meletakkan fondasi lagi. Inilah kesaksian yang seragam dari para bapa gereja mula-mula.
Ada banyak kesembuhan palsu di Indonesia dan di seluruh dunia. Banyak di antaranya ditampilkan di YouTube. Misalnya Benny Hinn. Dia adalah penyembuh palsu terkenal. Dia pernah datang di Indonesia. Namun, keponakannya sendiri, bernama Costi Hinn, telah mengungkapkan bahwa kesembuhan Benny Hinn direkayasa dan palsu.
Kita perlu hati-hatilah agar kita tidak ditipu oleh para pembuat mukjizat palsu ini. Sebagian dari mereka sebenarnya diberdayakan oleh roh-roh jahat, bukan oleh Roh Kudus.
Saya pikir banyak orang akan bertanya: Jika tidak ada lagi rasul yang mengadakan mukjizat, bagaimana orang belum percaya dapat takjub akan kuasa Tuhan dan menjadi orang Kristen?
Sekalipun tidak ada lagi rasul, masih ada banyak cara yang membuat orang dapat takjub akan Tuhan.
Pertama, mereka masih dapat takjub akan kebenaran yang dituliskan para rasul di dalam Alkitab. Yesus berjanji kepada mereka bahwa Ia akan menyebarkan Injil ke seluruh dunia dan mendirikan gereja-Nya di seluruh dunia.
Menurut hikmat manusia, janji ini sama sekali mustahil digenapi. Tidak ada alasan bagi kelompok orang Kristen ini menyebarkan Injil ke seluruh dunia.
Mereka tidak berarti. Mereka hanya orang biasa. Mereka bukan seorang militer atau politikus. Mereka juga dianiaya pemerintah Roma dan Yahudi.
Pesan injil juga dipandang memalukan karena memberitakan Kristus yang disalibkan. Bagi manusia, hal itu merupakan batu sandungan dan sesuatu yang memalukan. Bagaimana mungkin Pencipta dan Raja dunia disalibkan pada salib yang hina dalam keadaan nyaris telanjang, bahkan mungkin telanjang sepenuhnya?
Hal ini dianggap sangat memalukan dan mengguncangkan. Manusia yang berdosa dan sombong tidak akan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kecuali Roh Kudus membuka hati mereka untuk percaya. Fakta bahwa Injil tersebar ke seluruh dunia menunjukkan kuasa Tuhan.
Injil tidak disebarkan dengan pedang atau pembunuhan, tetapi melalui kasih, doa, dan pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, sebuah berita yang dipandang memalukan. Hal ini menunjukkan kuasa Tuhan.
Kuasa Tuhan tidak hanya dinyatakan melalui para rasul. Bahkan setelah mereka meninggal, Injil terus tersebar ke seluruh dunia melalui orang-orang biasa dengan sarana-sarana biasa. Ketika melihat sejarah penyebaran Injil ke seluruh dunia dan bagaimana Injil mengubah Kekaisaran Romawi, kita tetap dibuat takjub oleh kuasa Tuhan.
Saya mengenal beberapa orang menjadi orang Kristen karena mereka takjub melihat kuasa Tuhan dalam sejarah. Secara ajaib, Tuhan menggenapi janji-Nya untuk menyebarkan Injil meskipun ada begitu banyak perlawanan terhadapnya.
Kedua, orang masih dapat takjub ketika Tuhan menjawab doa kita secara ajaib. Terkadang Tuhan menjawab doa kita dengan cara yang ajaib, tetapi jawaban itu bergantung pada hikmat dan waktu-Nya. Kita tidak memiliki karunia untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan seperti para rasul dan nabi. Namun, kita tetap dapat berdoa, dan Tuhan akan menjawab doa kita dengan cara-Nya yang ajaib. Melalui hal itu, kita dapat melihat kuasa Tuhan.
Meskipun tidak ada lagi rasul yang mengadakan mukjizat, orang-orang yang belum percaya masih dapat melihat kuasa Tuhan dalam sejarah dan melalui jawaban doa.
Penyebaran Injil tidak terhambat oleh berakhirnya jabatan para rasul. Tuhan telah memberikan kepada kita cara-cara biasa untuk menyebarkan Injil.
5. Saling Mengasihi melalui Perbuatan
Kelima ciri, jemaat mula-mula juga dikenal karena kasih mereka satu sama lain, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui perbuatan. Mereka saling berbagi apa yang mereka miliki. Ketika seseorang berkekurangan, beberapa orang menjual rumah mereka dan memberikan hasil penjualannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Ingatlah, tiga ribu orang Yahudi percaya kepada Yesus. Banyak dari mereka tidak berasal dari Yerusalem, tetapi dari berbagai tempat seperti Roma, Persia, Mesir, dan daerah-daerah lainnya. Setelah menjadi orang Kristen, mereka belum dapat pulang karena belum ada gereja di kota asal mereka. Mereka perlu tinggal di Yerusalem selama berbulan-bulan, mungkin bahkan beberapa tahun, untuk mempelajari ajaran para rasul.
Mereka tidak merencanakan untuk tinggal selama itu di Yerusalem sehingga mereka tidak membawa cukup uang. Banyak dari mereka mungkin juga tidak dapat memperoleh pekerjaan. Kisah Para Rasul 6 juga menunjukkan sebagian dari mereka adalah para janda.
Jadi, ada banyak orang miskin dalam gereja yang baru berdiri itu dan mereka membutuhkan bantuan. Karena kasih, beberapa orang Kristen menjual harta mereka dan memberikan uangnya untuk menolong orang miskin.
Ini bukan komunisme. Para pemimpin gereja tidak memaksa orang percaya menjual segala milik mereka lalu memberikannya kepada para pemimpin gereja. Orang percaya itu memiliki hak atas milik pribadi, tetapi mereka menolong orang lain dengan sukarela, bukan karena dipaksa oleh hukum. Jadi, ini bukan komunisme. Dalam komunisme tidak ada kasih. Tidak ada kasih ketika orang dipaksa menyerahkan miliknya. Sebaliknya, orang percaya menunjukkan kasih dengan sukarela menyerahkan harta mereka untuk menolong orang lain.
Gereja yang alkitabiah ditandai oleh kasih satu sama lain yang diwujudkan melalui perbuatan.
Kasih seperti ini juga membantu penyebaran Injil. Orang belum percaya menjadi orang percaya bukan hanya karena mereka takjub akan kuasa Tuhan dalam sejarah, tetapi juga karena mereka melihat kasih yang luar biasa di antara umat Tuhan.
6. Menyembah Tuhan
Keenam ciri pujian mereka kepada Tuhan. Mereka sangat mengasihi Tuhan dan menunjukkannya dengan memuji Dia. Inilah inti kehidupan orang Kristen. Kita diciptakan untuk mengasihi Tuhan dan memuji-Nya karena kebesaran-Nya.
Tuhan besar dan sempurna dalam kebenaran, kasih, dan kesetiaan-Nya. Ia juga besar dalam karya keselamatan-Nya. Orang-orang Kristen mula-mula memuji dan menyembah Tuhan setiap hari melalui doa. Mereka juga berkumpul sebagai gereja untuk memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama.
Jemaat mula-mula sepenuhnya berpusat pada Tuhan. Ibadah mereka tidak berpusat pada manusia, tetapi sepenuhnya tertuju kepada Tuhan.
Mereka mendengar kebenaran tentang Tuhan, menyanyikan kebenaran tentang Tuhan, membaca kebenaran tentang Tuhan di dalam Alkitab, mereka memberitakan kebenaran tentang Tuhan dari Alkitab, dan mereka berdoa sesuai dengan kebenaran tentang Tuhan di dalam Alkitab. Semuanya berpusat pada Tuhan, bukan pada budaya, politik, hiburan, atau hal-hal lain yang berpusat pada manusia.
Gereja adalah tempat untuk bertumbuh secara rohani dan semakin takjub akan Tuhan.
Gereja bukanlah tempat untuk bergaul dan membangun jaringan bisnis atau kesombongan kita.
Gereja adalah tempat untuk menghormati dan memuji Tuhan melalui persekutuan: dengan saling mendorong untuk mengasihi dan melakukan perbuatan baik, serta memakai karunia roh kita untuk melaksanakan Amanat Agung.
Gereja adalah tempat untuk menghormati Tuhan dengan bertanya, “Bagaimana saya dapat memakai karunia roh saya untuk menghormati Tuhan, melayani gereja-Nya, dan melaksanakan Amanat Agung?” Gereja bukanlah tempat untuk bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari gereja saya?” Sebaliknya, kita seharusnya bertanya, “Bagaimana saya dapat melayani gereja saya demi kehormatan Tuhan?”
7. Menjangkau Orang Lain
Ciri terakhir, kita melihat bahwa jemaat mula-mula menjangkau orang-orang di luar gereja. Ayat 47 menyatakan bahwa mereka disukai semua orang. Bahkan orang belum percaya menyukai orang Kristen ini karena kasih mereka kepada sesama.
Ini tidak berarti bahwa semua orang menyukai mereka, sebab kita tahu bahwa penganiayaan tetap terjadi. Para pemimpin Yahudi yang membunuh Yesus masih berkuasa dan terus berusaha menganiaya gereja.
Meskipun menghadapi permusuhan, orang Kristen terus mengasihi sesama dengan kebaikan, kelemahlembutan, dan kesabaran. Mereka menjadi terang dan garam di dunia. Mereka melakukan perbuatan baik kepada orang lain untuk menunjukkan kasih mereka dan kasih Tuhan.
Mereka bukan hanya berbuat baik, tetapi juga terus memberitakan Injil kepada orang lain meskipun menghadapi penganiayaan.
Ketika orang-orang di luar gereja melihat perbuatan kasih orang-orang percaya, mereka memuliakan Tuhan, mendengarkan Injil, dan banyak dari mereka menjadi percaya. Setiap hari Tuhan menambahkan orang-orang yang diselamatkan ke dalam gereja.
Kesimpulan dan Penerapan
Saudara-saudara, kita telah melihat tujuh ciri alkitabiah yang terdapat dalam jemaat mula-mula: mereka bertekun pada Alkitab, persekutuan, doa, ketakjuban akan kuasa Tuhan, kasih yang diwujudkan melalui perbuatan, penyembahan kepada Tuhan, dan jangkau orang belum percaya.
Sekarang gereja kita juga harus mengikuti teladan mereka. Marilah kita bersama-sama mengejar ketujuh ciri ini karena kita mengasihi Tuhan dan ingin menghormati-Nya.
Kita ingin melihat setiap anggota bertumbuh secara rohani dan orang belum percaya menjadi orang Kristen.
Tidak ada gereja yang sempurna, dan setiap gereja selalu dapat terus bertumbuh. Yang penting adalah sikap dan tekad kita.
Pertama, kita harus memiliki sikap yang benar. Kita perlu memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan-Nya yang agung. Di manakah kita berada tanpa Kristus? Kita masih akan hidup dalam kebinasaan, jauh dari Tuhan, dan sedang menuju neraka.
Dengan hati yang bersyukur, kita harus menghormati Tuhan dengan mengejar ketujuh ciri ini.
Kedua, kita harus bertekad untuk mengejar ketujuh ciri ini. Kehidupan Kristen tidak mudah dan menuntut tekad. Tentu saja, tekad kita bergantung pada kuasa dan anugerah Tuhan yang kita mohonkan dalam doa.
Kita berdoa dan bergantung kepada Tuhan, tetapi kita juga harus memiliki tekad yang kuat untuk mengikuti dan menaati-Nya.
Kita tidak boleh berkompromi atau membiarkan dosa mengalihkan perhatian kita.
Tujuan kita adalah melihat sebanyak mungkin orang menyembah Tuhan melalui ketujuh ciri yang alkitabiah ini, bukan melalui cara-cara yang tidak alkitabiah.
Seperti jemaat mula-mula, kita harus bertekad untuk tetap setia kepada Tuhan dan firman-Nya tanpa berkompromi.
Kita harus bertekad agar gereja kita berpusat pada Tuhan, bukan pada manusia.
Saya bersyukur karena Tuhan telah menyediakan tempat yang baru ini bagi gereja kita. Marilah kita berdoa agar gereja kita ditandai oleh ketujuh ciri ini sehingga Tuhan dimuliakan.
Marilah kita berdoa agar Tuhan memakai tempat yang baru ini untuk menjangkau lingkungan sekitar demi kehormatan-Nya.
Kita rindu agar orang lain mengalami sukacita dalam menyembah Tuhan sebagaimana kita juga bersukacita dalam menyembah-Nya.
