Doktrin Tritunggal Tetap Teguh Walaupun Diserang oleh Oneness Pentakostalisme

Jakarta, Juni 2026, ditulis oleh Simon Pyatt

Pendahuluan

Dr. Martyn Lloyd-Jones pernah beritakan, “Jika kita tidak memercayai hal itu, kita tidak dapat menjadi orang Kristen; itu mustahil.”[1] Jika kita tidak melihat kutipan ini dalam konteksnya, kita mungkin menyimpulkan bahwa ia sedang berbicara tentang keilahian Yesus, atau keselamatan oleh anugerah melalui iman, atau bahkan sesuatu yang mendasar seperti kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta kita. Namun, ternyata bukan doktrin yang kita anggap sederhana atau mendasar yang dibicarakannya. Dr. Lloyd-Jones sedang berbicara tentang Tritunggal. Apakah ia berlebihan dalam menyatakan hal ini? Bukankah kita dapat berbicara tentang Allah dengan istilah-istilah yang sederhana dan menunjukkan sedikit kelapangan hati kepada orang-orang yang memiliki pandangan berbeda dari kita mengenai Tritunggal? Sikap seperti ini cukup umum dalam gereja modern dan dianut secara luas di Indonesia, negara tempat penulis berdomisili, di mana Oneness Pentakostalisme dan pandangan-pandangan serupa telah berpengaruh.

Karya tulis ini akan menunjukkan bahwa doktrin Tritunggal muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan teks Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama, kita melihat ketritunggalan dalam bentuk benih, yang kemudian tampak dengan jelas dalam Perjanjian Baru. Kita menemukan penyataan yang sungguh mengagumkan tentang Allah yang satu, namun pada saat yang sama dengan jelas menyatakan tiga Pribadi yang setara, kekal, dan ilahi, yang dalam beberapa hal menunjukkan adanya urutan tertentu dan, dalam konteks tertentu, ketundukan. Apakah mengherankan jika dibutuhkan waktu untuk menemukan istilah-istilah yang tepat untuk menggambarkan hal-hal seperti ini?

Kita juga akan melihat sejarah dan keyakinan Oneness Pentakostalisme, dengan membandingkan ajaran mereka, sebagaimana diajarkan oleh pengajar Oneness yang paling terkemuka, dengan keseluruhan data Alkitab. Dengan demikian, kita akan melihat bahwa doktrin Tritunggal berada dalam posisi yang sangat kokoh, karena doktrin ini memberikan penjelasan yang jauh lebih baik mengenai teks Alkitab dan, dengan demikian, menyajikan Allah Tritunggal sebagaimana Ia sendiri ingin dinyatakan kepada kita. Dan gambaran itu sangat indah sekaligus mencengangkan, sehingga sulit dipahami. Kiranya karya tulis yang sederhana dan berlandaskan Alkitab ini juga dapat membawa kejelasan pada saat gereja di Indonesia sedang menghadapi ancaman yang muncul dari toleransinya terhadap pandangan lain, yang ternyata keliru.

BAGIAN 1: APAKAH DOKTRIN TRITUNGGAL ALKITABIAH?

Salah satu pengajar Oneness Pentakostalisme yang paling cakap dan berpengaruh adalah David K. Bernard, yang menulis buku The Oneness of God pada tahun 1983. Buku ini masih dianggap sebagai salah satu sumber yang paling berpengaruh bagi gerakan tersebut dan akan beberapa kali dirujuk dalam esai ini. Salah satu pernyataan penting yang berulang kali dikemukakan di sepanjang buku tersebut menyatakan bahwa jika seseorang mendekati Kitab Suci dengan pikiran yang obyektif, yaitu tanpa pengaruh dari pengajaran historis tentang Tritunggal, ia akan dengan mudah melihat bahwa teologi Oneness adalah pandangan yang lebih masuk akal dan lebih alkitabiah. Sebagai contoh:

Bagaimana dengan bagian-bagian Kitab Suci yang tampaknya menggambarkan lebih dari satu Pribadi dalam ke-Allahan? Bagian-bagian tersebut tampaknya demikian hanya karena telah digunakan selama bertahun-tahun oleh orang-orang yang percaya bahwa ada lebih dari satu Pribadi dalam ke-Allahan. Ketika seseorang melepaskan dari pikirannya semua penafsiran, konotasi, dan doktrin yang dibuat manusia, lalu memandang ayat-ayat ini melalui mata para penulis aslinya (yang adalah orang-orang Yahudi yang saleh dan monoteistis), ia akan memahami bahwa ayat-ayat tersebut menggambarkan berbagai atribut dan peran Allah atau natur ganda Yesus Kristus.[2]

Dengan demikian, setiap pembahasan mengenai ajaran Oneness perlu menunjukkan bukti alkitabiah tentang Tritunggal dan menunjukkan bagian-bagian Alkitab yang di balik kredo-kredo yang muncul kemudian. Sebab, sebagaimana sangat jelas dari sejarah, ajaran Tritunggal dalam Kitab Suci melahirkan kredo-kredo tersebut, bukan sebaliknya. Letham mengamati, “Tidak ada pernyataan formal mengenai doktrin Tritunggal di dalam Alkitab sebagaimana yang kita temukan dalam konsili-konsili gereja pada masa kemudian. Namun, jawaban terhadap persoalan tersebut memang ada di sana. ‘Persoalan Tritunggal telah diajukan dan dijawab dalam Perjanjian Baru.’”[3]

1. Allah Itu Esa

Meskipun pengakuan bahwa Allah itu esa tampaknya terlalu jelas untuk dibahas, hal ini perlu ditegaskan karena adanya tuduhan bahwa pendekatan non-Oneness pada dasarnya bersifat politeistis.[4] Hal ini tidak terbantu oleh para pendukung konsep Tritunggal Sosial, maupun oleh penggunaan ilustrasi-ilustrasi tentang Tritunggal yang dapat memberikan kesan bahwa Allah terdiri dari tiga Pribadi yang hanya bersatu dalam tujuan dan tidak benar-benar esa.[5] Hal ini menjadi sasaran empuk bagi para pendukung doktrin Oneness.

Pengakuan mendasar tentang keesaan Allah terdapat dalam Shema, yang ditemukan dalam Ulangan 6:4: “Dengarlah, hai Israel! TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ini adalah pengakuan Kristus (Markus 12:29), dan jelas disinggung juga dalam 1 Korintus 8:4–6 serta Yakobus 2:19. Kebenaran ini terlihat pula dalam banyak bagian lain di seluruh Kitab Suci (misalnya, Kel. 20:3; Ul. 4:35; 32:39; Yes. 45:5, 6, 14, 18, 21; 46:9; Za. 14:9). Kesimpulan yang tidak dapat dihindari adalah bahwa Allah dalam Alkitab secara numerik adalah satu.[6] Namun, istilah yang digunakan dalam Shema tidak dengan sendirinya menjadi bukti yang menutup kemungkinan bahwa Allah yang esa dalam esensi dapat memiliki lebih dari satu Pribadi. Istilah echad (esa) yang digunakan di sini sering kali menunjuk pada kesatuan yang mencakup pluralitas, bukan semata-mata pada pengertian tunggal. Hal ini jelas terlihat dalam Kejadian 2:24, ketika istilah ini digunakan untuk menunjuk pada kesatuan suami dan istri. Seandainya Roh Kudus bermaksud menghilangkan segala keraguan mengenai makna “esa” dalam Shema, Ia dapat menggunakan kata yakhid, yang secara khusus menunjuk pada pengertian tunggal.[7]  Jadi, meskipun Allah secara numerik adalah satu, masih terdapat ruang bagi gagasan  ketritunggalan yang berkembang melalui bagian-bagian Kitab Suci selanjutnya.

2. Allah Adalah Tritunggal

Aspek kedua dari topik Tritunggal, yang sama seperti keesaan Allah, tidak terbantahkan, adalah bahwa Kitab Suci menyatakan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Masing-masing Pribadi dinyatakan sebagai Allah yang kekal, dan masing-masing juga dinyatakan sebagai Pribadi, bukan sekadar modus atau topeng yang digunakan Allah. Ditambah lagi dengan cara yang begitu eksplisit Alkitab menggambarkan Pribadi-Pribadi ilahi saling berelasi satu dengan yang lain, maka keyakinan bahwa “ketigaan” Allah hanyalah semacam peran atau tindakan menjadi sulit untuk dipertahankan.

Pribadi yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa jelas adalah ilahi. Ia kekal (Rm. 16:26), Ia disebut dan disembah sebagai Allah (Yoh. 6:27; Flp. 4:20; 1Ptr. 1:2), dan kepada-Nyalah kita berdoa (Mat. 6:9).

Allah Bapa juga dinyatakan sebagai seorang Pribadi. Sebagai Pribadi, Ia berbicara (Mat. 3:17), mengasihi (Yoh. 3:35), mengutus (Yoh. 5:36), memiliki kehendak (Mat. 7:21), mengetahui (Mat. 6:8), memberikan kesaksian (Yoh. 5:37), memberikan hidup (Yoh. 5:26), dan sebagainya. Lebih dari itu, sebutan Bapa sendiri bersifat personal sekaligus relasional. Meskipun Ia memang disebut sebagai Bapa bagi manusia (Ef. 4:6; Ibr. 12:9), dan terutama bagi orang-orang percaya (Rm. 8:15), sebutan ini berbicara dengan sangat indah yang paling mulia mengenai hubungan-Nya dengan Anak-Nya, Yesus (Yoh. 5:19, 20, 23, 26, 36; 6:37, 46; 17:5, 24).

Pribadi yang dinyatakan kepada kita sebagai Allah Anak secara eksplisit disebut ilahi. Ia disebut Allah (Yoh. 1:1, 18; 20:28; Rm. 9:5; Tit. 2:13; Ibr. 1:8; 1Yoh. 5:20), dan disebut sebagai Anak Allah (Yoh. 10:33, 36; 19:7), yang dengan jelas dipahami oleh orang-orang Yahudi sebagai suatu klaim untuk setara dengan Allah (Yoh. 5:18). Ia berkali-kali disebut sebagai Tuhan (Kurios) (Luk. 2:11; Rm. 10:9; Flp. 2:9–11; Ibr. 1:10), yang dalam banyak konteks harus dipahami sebagai rujukan kepada nama ilahi Yahweh, yang diterjemahkan sekitar 6.814 kali dalam Septuaginta dengan kata Kurios.[8]  Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah (Yoh. 8:58; 14:8–9), dan Ia dengan tepat disembah sebagai Allah (Mat. 28:17; Yoh. 5:23; 20:28; Flp. 2:9–11; Ibr. 1:6; Why. 5:12–14), serta menunjukkan atribut-atribut Allah.[9]

Salah satu aspek penting dari natur ilahi Kristus adalah bahwa Ia kekal. Hal ini tidak diperdebatkan oleh para pendukung Oneness. Namun, yang mereka tentang, sebagaimana akan kita lihat, adalah bahwa Kristus secara kekal adalah Anak. Keanakan Kristus yang kekal (eternal sonship) diajarkan dan juga tersirat dalam Kitab Suci. Kita melihat dalam inclusio Yohanes 1:1–18 bahwa Sang Firman, yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (1:1), dalam ayat penutup (sepasang dengan 1:1), yaitu ayat 18 disebut sebagai “Anak Tunggal” yang “ada di pangkuan Bapa.” Dalam 1:1, Yohanes menggunakan bentuk imperfek dari eimi (ēn), sebuah kata yang menyatakan keberadaan, untuk memberikan kepada pembaca kesan bahwa Sang Firman telah selalu ada,[10]  sedangkan dalam ayat yang sejajar, 1:18, partisipel kini dari eimi (ōn) menyatakan “suatu kesatuan yang terus berlangsung.”[11] Carson berkomentar bahwa ungkapan “di pangkuan Bapa” “tampaknya menyampaikan suasana keintiman, kasih timbal balik, dan pengenalan satu sama lain.”[12] Bukankah ini merupakan hubungan Bapa dan Anak yang kekal? Tambahkan pula pernyataan Kristus bahwa Ia memiliki kemuliaan bersama-sama dengan Bapa-Nya sebelum dunia ada (Yoh. 17:5), dan bahwa Bapa telah mengasihi-Nya sebelum dunia dijadikan (Yoh. 17:24), maka sulit untuk menyangkal hubungan yang intim dan kekal antara Allah Bapa dan Allah Anak. Ayat-ayat lain yang menyatakan keanakan kekal adalah Yohanes 3:17, di mana Bapa mengutus Anak-Nya ke dalam dunia, serta 1 Yohanes 4:9–10 dan 14, yang juga dengan jelas menyatakan pemikiran ini. “Pribadi Bapa mengutus Pribadi yang sudah ada sebagai Anak ke dalam dunia.”[13]

Anak yang kekal juga menjadi manusia sejati; sepenuhnya Allah, namun sepenuhnya manusia. Dengan demikian, Ia memiliki dua natur, yaitu natur ilahi dan yang manusiawi, tetapi keduanya tetap utuh dalam satu Pribadi Yesus Kristus. Ia tidak menggunakan kata ganti jamak untuk bicara mengenai diri-Nya atau berdebat dengan diri-Nya sendiri. Yesus selalu bertindak sebagai satu Pribadi. Meskipun demikian, sebagai Allah, Yesus memiliki kehendak yang satu dengan kehendak ilahi (Yoh. 5:19–20), tetapi sebagai manusia, Ia juga memiliki kehendak manusiawi. Hal ini terlihat dengan jelas dalam doa-Nya di Getsemani: “tetapi bukanlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). Wellum menunjukkan bahwa aspek kemanusiaan ini diperlukan jika Kristus hendak menjadi wakil dan pengganti kita, karena untuk itu Ia perlu memiliki kehendak agar Ia dapat tunduk kepada Bapa-Nya[14] — sesuatu yang dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Suci (Yoh. 8:28–29; 14:31; Ibr. 5:8).

Jadi, Sang Anak adalah seorang Pribadi, Ia selalu dan sejak kekekalan adalah Anak, Ia dikasihi oleh Bapa-Nya, dimuliakan bersama-sama dengan Bapa-Nya, dan Ia adalah Allah. Semuanya ini bukanlah teori yang berasal dari kredo yang muncul kemudian. Ini adalah implikasi dan kesimpulan yang jelas, sederhana, dan nyata dari Kitab Suci.

Meskipun banyak orang menganggap bahwa Allah Roh Kudus kurang menonjol dalam Kitab Suci, sulit untuk mempertahankan pandangan tersebut. Istilah Ruach digunakan untuk menunjuk kepada-Nya tidak kurang dari 79 kali dalam Perjanjian Lama, dan padanannya dalam Perjanjian Baru, Pneuma, digunakan sebanyak 245 kali.[15] Memang harus diakui bahwa terdapat lebih banyak ambiguitas mengenai pribadi-Nya dalam Kitab Suci dibandingkan dengan Allah Anak, tetapi data yang tersedia tidaklah samar.

Reymond memberikan uraian yang bermanfaat mengenai data Alkitab yang berkaitan dengan Roh sebagai Allah.[16]  Ia membaginya ke dalam enam kategori. Pertama, sebagaimana juga ditunjukkan oleh kebanyakan teolog, ia menunjukkan bahwa Roh disebut sebagai Allah dalam Kisah Para Rasul 5:3–4. Kedua, ia memberikan contoh-contoh dari bagian-bagian Perjanjian Lama yang berbicara tentang Yahweh, yang kemudian digunakan untuk berbicara tentang Roh dalam Perjanjian Baru (Yes. 6:9–10 dengan Kis. 28:25–27; Mzm. 95:7–11 dengan Ibr. 3:7–9; dan Im. 26:11–12 dengan 2Kor. 6:16). Ketiga, ia menunjukkan bahwa Roh Kudus disebutkan dalam satu rangkaian bersama Bapa dan Anak dalam bagian-bagian yang bersifat Tritunggal (Mat. 3:16; 28:19; 1Kor. 12:4–6; 2Kor. 13:14; Ef. 2:18; 4:4–6; 1Ptr. 1:2). Poin keempat dan keenam mencantumkan atribut dan tindakan ilahi-Nya, sedangkan poin kelima berbicara mengenai prosesi kekal-Nya dari Bapa dan Anak (Yoh. 15:26). Kategori-kategori ini sangat membantu karena dari Kitab Suci melukiskan suatu gambaran yang jelas mengenai natur ilahi Roh.

Setelah hal tersebut disimpulkan, aspek yang kontroversial dan sering kali disalahpahami mengenai Allah Roh adalah kepribadian-Nya. Meskipun ada banyak ayat yang dapat memberikan kesan bahwa Roh hanyalah kuasa Allah yang sedang bekerja, ayat-ayat tersebut tidak mencakup seluruh data Alkitab. Sejumlah bagian dari pasal 14–16 dalam Injil Yohanes membuat mustahil untuk mempertahankan pandangan bahwa Roh hanyalah kuasa Allah atau suatu modus dari penyataan diri-Nya. Dengan membaca Yohanes 14:15–17, 26; 15:26; 16:7–8, 12–13, pembaca akan melihat bahwa Roh dibicarakan dengan menggunakan kata ganti dan imbuhan maskulin, yang dengan jelas menunjuk kepada seorang Pribadi. Lebih dari itu, istilah Parakletos, yang diterjemahkan sebagai Penolong, Penghibur, Pembela, dan sebagainya, tidak dapat digunakan untuk menunjuk kepada suatu kuasa, karena istilah ini menuntut tindakan, akal budi dan kehendak. Sejumlah kata kerja yang berkaitan dengan istilah tersebut juga hanya dapat menunjuk kepada seorang Pribadi, yaitu datang, menyertai, diam di dalam, mengajar, mengingatkan, bersaksi, menginsafkan, dan memimpin.

Perhatikan juga di bagian-bagian tersebut betapa jelasnya Roh, Anak, dan Bapa dibedakan satu sama lain. Kristus berjanji untuk meminta kepada Bapa agar Bapa mengutus Penolong lain, yang bukan Yesus. Penolong ini diutus oleh Kristus dari Bapa dan bersaksi tentang Kristus. Ia tidak dapat datang sebelum Kristus pergi dan mengutus-Nya, dan ketika Ia datang, Ia akan mengajarkan kepada mereka segala sesuatu yang masih ingin Kristus nyatakan kepada mereka. Ini merupakan pengajaran yang sangat jelas mengenai hubungan Roh dengan Bapa dan Anak.

MacArthur dan Mayhue dengan jelas menunjukkan bahwa Roh memiliki tiga atribut kepribadian: intelek, kehendak, dan emosi. Mengenai intelek, kita melihat bahwa Roh Kudus mengilhamkan Kitab Suci (2Ptr. 1:21), memiliki pengetahuan sehingga Ia dapat memberikan nasihat (Yes. 11:2), berpikir (Rm. 8:27; 1Kor. 2:10–13), berdoa (Rm. 8:26), berbicara (Kis. 8:29; Why. 2:7–3:22, dll.), mengingatkan dan mengajar (Yoh. 14:26), bersaksi (Yoh. 15:26; 1Yoh. 5:7–8), dan menyampaikan kebenaran (Yoh. 14:17, 26, dll.). Mengenai kehendak, Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus berusaha menahan dosa manusia (Kej. 6:3; Kis. 7:51), mengarahkan (Kis. 16:6–7), membagikan karunia-karunia (1Kor. 12:11; Ibr. 2:4), dan memberikan hidup kepada manusia menurut kehendak-Nya sendiri (Yoh. 3:7–8; Tit. 3:5). Mengenai emosi, jelas dari pengajaran Kitab Suci bahwa Roh Kudus mengasihi (Rm. 5:5; 15:30), bersukacita (1Tes. 1:6), berdukacita (Yes. 63:10; Ef. 4:30), dan juga dapat dihina atau tersinggung (Ibr. 10:29).[17] Kita juga dapat menambahkan bahwa suatu kuasa tidak dapat ditaati (Kis. 16:6–7), atau tidak ditaati (Kis. 7:51), dihujat (Mat. 27:39), ataupun didustai (Kis. 5:3).

Jadi, Allah Roh Kudus dengan jelas dinyatakan sebagai Allah yang kekal, ilahi, dan personal.

Berkaitan dengan Pribadi-Pribadi Tritunggal sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Suci, terdapat pula pertanyaan mengenai hakikat peran masing-masing Pribadi dan apakah peran-peran tersebut mengimplikasikan ketidaksetaraan. Ketika membahas hal ini, penting untuk mengakui keterbatasan manusia, baik dalam hal apa yang dapat diproses oleh otak manusia maupun dalam hal betapa besarnya pengaruh logika humanistis yang masih terus memengaruhi cara berpikir kita. Logika humanistis mengatakan kepada kita bahwa ketundukan menunjukkan ketidaksetaraan, sedangkan Kitab Suci justru mengajarkan hal yang sebaliknya (Mat. 20:25–28; Yoh. 13:3–17; Flp. 2:9–11). Kita juga harus mengakui bahwa jika peran masing-masing Pribadi dalam ekonomi keselamatan saja sulit kita pahami, seberapa besar harapan kita untuk memahami hubungan Tritunggal opera ad intra?[18]

Dipersenjatai dengan kesadaran itu, kita dapat melihat isyarat-isyarat tertentu dalam Kitab Suci yang dapat membawa kita kepada beberapa kesimpulan. Pertama, kita harus menyimpulkan bahwa jika Pribadi-Pribadi Tritunggal adalah satu dalam esensi, maka tidak mungkin ada ketidaksetaraan secara ontologis. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, setiap Pribadi dihormati sebagai Allah, ditaati sebagai Allah, ditakuti sebagai Allah, dan disebut sebagai Allah.

Kita bisa melihat beberapa isyarat mengenai suatu urutan atau prioritas ontologis, di mana Bapa memberikan hidup kepada Anak (Yoh. 5:26), dan Roh ke luar dari Bapa dan Anak (Yoh. 15:26). Ini merupakan petunjuk kepada suatu realitas yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya, di mana bahasa hanya dapat menutupi keterbatasan pengetahuan kita. Istilah-istilah yang digunakan tidak menyiratkan penciptaan, yang akan menjadikan Anak dan Roh sekadar makhluk ciptaan—sesuatu yang tidak diajarkan oleh Kitab Suci—melainkan suatu hubungan yang intim, yang dinyatakan dalam istilah kelahiran/generasi dan prosesi (ke luar).

Perbedaan peran dan ketundukan di antara para Pribadi justru terlihat dalam hubungan Allah dengan umat manusia, khususnya dalam ekonomi keselamatan, di mana Bapa merencanakan dan memilih (Ef. 1:4–14), Anak melaksanakan rencana tersebut dengan diutus (Yoh. 3:16), merendahkan diri-Nya (Flp. 2:7), secara permanen mengenakan daging manusia (Kol. 2:9), menjalani kehidupan dalam ketaatan sebagai wakil kita, sebagai Adam kedua (Rm. 5:12–21), bahkan merendahkan diri-Nya sampai kepada kematian (Flp. 2:8), supaya Ia dapat sepenuhnya menanggung murka Allah bagi umat-Nya (1Yoh. 2:2). Kemudian Roh menerapkan rencana tersebut, diutus oleh Bapa (Yoh. 14:16, 26) dan Anak (Yoh. 15:26) untuk melahirbarukan orang-orang pilihan (Tit. 3:5), diam di dalam mereka (Rm. 8:9), memberikan kuasa kepada umat-Nya (Kis. 1:8), dan membentuk mereka menjadi serupa dengan gambar Kristus (Gal. 5:22–24). Di sini kita melihat Sang Anak menaati Allah Bapa dan Sang Roh menaati Allah Bapa dan Anak dalam karya opera ad extra.[19] Ketundukan ini tampaknya berakar pada prioritas opera ad intra yang telah disebutkan di atas. Letham berkata:

“Jürgen Moltmann menjawab hal ini dengan sangat jelas ketika ia mengatakan bahwa kita hanya dapat berbicara tentang satu Tritunggal dan tentang ekonomi keselamatan-Nya, sehingga ‘Tritunggal ilahi tidak dapat muncul dalam ekonomi keselamatan sebagai sesuatu yang berbeda dari keberadaan-Nya yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kita tidak dapat menempatkan hubungan-hubungan Tritunggal yang bersifat temporal dalam ekonomi keselamatan yang tidak berakar pada hubungan-hubungan Tritunggal yang mula-mula.’”[20]

 

Dalam hal ini, kita perlu mengingatkan diri kita bahwa Pribadi-Pribadi Tritunggal bukanlah pribadi-pribadi yang terpisah dan independen, sebagaimana bahkan hubungan manusia yang paling erat sekalipun tetap akan menunjukkan adanya perbedaan demikian. Sebaliknya, mereka adalah satu Allah, satu esensi, yang menyatakan satu kehendak, sehingga ketundukan dalam pengertian apa pun yang bersifat kekal menjadi mustahil. Karya Anak dan Roh mencerminkan satu kehendak ilahi itu. Bahkan ketika Kristus mengambil natur manusia sejati, yang mencakup kehendak manusiawi, Ia menundukkan sepenuhnya kehendak itu kepada kehendak ilahi (Yoh. 4:34; 5:19; 6:38; 8:29; Mat. 26:39).

Dengan demikian, berbicara mengenai ketundukan dalam ekonomi keselamatan semata-mata dari perspektif logika manusia, atau dengan cara yang tidak memperhitungkan bagian-bagian Alkitab yang berbicara mengenai Allah secara ontologis, tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai keseluruhan data Alkitab. Menariknya, meskipun kita melihat adanya perbedaan peran ini, karya eksternal (opera ad extra) dari Pribadi-Pribadi Tritunggal sering kali tidak dibedakan secara tegas dalam Kitab Suci, yang mencerminkan bahwa Pribadi-Pribadi tersebut tidak terpisahkan.[21] Kesadaran ini, yang dipertegas oleh kesaksian Kitab Suci, mendorong Gregorius dari Nazianzus untuk mengungkapkannya demikian:

Begitu aku memikirkan Yang Esa, aku diterangi oleh kemegahan Ketiganya; begitu aku membedakan Ketiganya, aku kembali dibawa kepada Yang Esa. Ketika aku memikirkan salah satu dari Ketiganya, aku memikirkan-Nya sebagai keseluruhan, dan mataku dipenuhi, sementara sebagian besar dari apa yang kupikirkan luput dariku. Aku tidak mampu memahami kebesaran Yang Esa sedemikian rupa sehingga dapat menganggap ada kebesaran yang lebih besar pada yang lainnya. Ketika aku memandang Ketiganya bersama-sama, aku hanya melihat satu obor, dan tidak mampu membagi atau mengukur cahaya yang tidak terbagi itu.[22]

Bagian 2: Apakah Oneness Pentakostalisme Itu?

Oneness Pentakostalisme berkembang dari gereja Sidang Jemaat Allah pada tahun-tahun awal “kebangunan rohani” Pentakosta. Pada mulanya gerakan ini disebut New Issue atau gerakan Jesus Only,[23]  yang bermula dalam sebuah retret Pentakosta yang diadakan di Arroyo Seco California pada April 1913. Pada saat itu, R. E. McAlister berusaha menjelaskan alasan mengapa baptisan dalam nama Yesus sebagaimana terlihat dalam kitab Kisah Para Rasul, berbeda dari baptisan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh dalam Amanat Agung. Ia mengatakan bahwa “Tuhan-Yesus-Kristus dimaksudkan sebagai padanan kristologis dari Bapa-Anak-Roh Kudus”[24] dan dengan demikian menyimpulkan bahwa Allah merupakan satu Pribadi yang menyatakan diri dengan tiga modus/topeng.  Dari awal yang sederhana ini, semakin banyak pendeta dan penginjil menjadi yakin dan mulai menyebarkan teologi Oneness, dengan membaptis kembali pengikut-pengikut mereka dalam nama Yesus saja.

Dalam dekade-dekade berikutnya, meskipun menghadapi berbagai perpecahan dan perebutan kekuasaan politik, gerakan ini berkembang menjadi salah satu cabang terbesar dalam Pentakostalisme. Reed menyatakan, “Arus Oneness dalam Pentakostalisme telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa sejak tahun 1960-an, baik di Amerika Utara maupun di Dunia Ketiga. UPCI sekarang mengklaim memiliki 2,3 juta anggota di seluruh dunia, dan gerakan Oneness secara global diperkirakan memiliki sekitar 14 juta pengikut dalam lebih dari 425 organisasi.”[25] Organisasi terbesar yang lahir dari gerakan ini adalah United Pentecostal Church Incorporated (UPCI), yang didirikan pada tahun 1945. Namun, dengan adanya sejumlah kelompok yang lebih kecil, gerakan ini berupaya mencapai kesatuan di bawah panji Apostolic World Christian Fellowship pada tahun 1971, yang mewakili suatu asosiasi organisasi-organisasi Oneness.[26]

Di negara seperti Indonesia, di mana Islam dianut oleh mayoritas penduduk, ajaran Oneness memiliki pijakan yang kuat karena, dalam pemikiran sebagian “penginjil”, ajaran ini menyingkirkan persoalan rumit mengenai Tritunggal dari pembahasan. Hal ini telah melahirkan gerakan Kristen Tauhid, denominasi GPSDI (Gereja Pentakosta di Indonesia bagian Selatan), serta beberapa pendeta Oneness terkemuka, seperti Erastus Sabdono, yang menuruti monoteisme absolutis. Hanny Setiawan dan Joseph Christ Santo telah menulis sebuah artikel yang sangat menolong yang menunjukkan bahwa meskipun denominasi-denominasi Oneness masih merupakan minoritas kecil di antara gereja-gereja di Indonesia, pengaruh para misionaris dari Bethel Pentecostal Temple di Seattle, Washington—sebuah gereja Oneness—dalam pembentukan denominasi-denominasi Pentakosta utama seperti GPDI, GBIS, dan GBI, telah memberikan pengaruh besar terhadap orang-orang percaya tersebut.[27] Hal ini juga tidak terbantu ketika penjelasan Tritunggal yang diberikan oleh kaum injili yang bermaksud baik justru menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang bersifat modalis, seperti telur, kelapa, air, es, uap, dan sebagainya.

Ajaran Oneness Pentakostalisme merupakan suatu bentuk modalisme, meskipun berkembang secara independen dari Sabellianisme dan, meskipun memiliki kemiripan dengannya, memiliki beberapa keyakinan yang cukup berbeda dari bentuk kunonya. Sebagaimana dapat diduga, mereka percaya bahwa Allah adalah satu Pribadi, yang menyatakan diri-Nya melalui modus Bapa, Anak, dan Roh. Namun, mereka menegaskan bahwa Yesus adalah Bapa yang berinkarnasi dan bahwa status-Nya sebagai Anak baru dimulai pada saat inkarnasi.

Monoteisme absolut, atau monoteisme ketat, merupakan doktrin utama sekaligus prinsip hermeneutis yang memandu gerakan Oneness. Mereka membangun pemahaman mereka atas Shema sebagai sesuatu yang secara ketat monoteistis, dan melihat hal yang sama dalam berbagai bagian Perjanjian Lama lainnya, tetapi tidak memperhitungkan isyarat-isyarat yang jelas mengenai pluralitas di dalamnya. Bernard menyatakan:

Pada masa kini, Allah masih menuntut umat-Nya untuk menyembah Dia secara monoteistis. Kita di dalam gereja adalah ahli waris Abraham oleh iman, dan kedudukan yang mulia ini menuntut agar kita memiliki iman monoteistis yang sama kepada Allah Abraham (Roma 4:13–17). Sebagai orang Kristen di dunia ini, kita tidak boleh berhenti meninggikan dan menyatakan berita bahwa hanya ada satu Allah yang benar dan hidup.[28]

Berdasarkan pemahaman itu ia berupaya untuk memaksakan setiap bagian Alkitab yang bersifat Tritunggal ke dalam kerangka tersebut, tidak peduli betapa tidak alaminya penafsiran yang dihasilkan. Kekeliruan dalam pandangannya, dan dalam ajaran Oneness secara umum, dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia harus menafsirkan ulang puluhan bagian Kitab Suci menurut kerangka ini. Beberapa di antaranya akan kita telaah di bawah ini.

Konsisten dengan pandangan modalis, para pendukung Oneness mengajarkan bahwa Allah adalah satu Pribadi menyatakan diri-Nya dalam tiga modus yang berbeda. Namun, cara mereka merumuskannya cukup unik. Mereka mengajarkan bahwa Allah berdiam dalam nama-nama yang digunakan untuk menyebut diri-Nya. Reed menyatakan, “Karakteristik yang secara khusus bersifat Yahudi dalam doktrin Oneness mengenai Allah adalah keyakinan bahwa sebuah nama menyatakan natur Allah yang sesungguhnya, bahwa Allah tidak memiliki pembedaan internal, dan bahwa Allah ‘berdiam’ di dalam kemah suci, bait, dan secara khusus di dalam nama Allah yang telah dinyatakan.”[29] Bernard menggunakan satu bab untuk membahas pentingnya sebuah nama, dengan berusaha mengajarkan bahwa penggunaan berbagai nama oleh Allah menyatakan karakter sekaligus kehadiran-Nya.[30] Ketika menerapkan pemahaman ini pada nama Yesus, Bernard menyimpulkan, “Ketika kegenapan waktu tiba, Allah memenuhi kerinduan umat-Nya dan menyatakan diri-Nya dalam seluruh kuasa dan kemuliaan-Nya melalui nama Yesus… Yesus adalah puncak dari nama-nama Allah dalam Perjanjian Lama.”[31] Berkaitan dengan Roh, Bernard berulang kali menyatakan bahwa Allah adalah roh, dan karena itu Roh adalah Bapa.

Oneness Pentakostalisme mengajarkan bahwa Yesus adalah Bapa yang berinkarnasi. Bernard mengatakan, “Jika hanya ada satu Allah dan Allah itu adalah Bapa (Maleakhi 2:10), dan jika Yesus adalah Allah, maka secara logis Yesus adalah penyataan Bapa.”[32] Kutipan ini dengan jelas menunjukkan penggunaan ketunggalan yang mutlak sebagai hermeneutik yang menjadi pedoman. Sebagaimana dapat diduga, Bernard menggunakan Yesaya 9:6 untuk menunjukkan bahwa Sang Anak adalah “Bapa yang kekal” dan Kolose 2:9 untuk mendukung klaimnya bahwa seluruh ke-Allahan direpresentasikan dalam Yesus.

Di sini Bernard memisahkan kedua natur Kristus sedemikian rupa sehingga memperlakukan keduanya sebagai dua pribadi. Kita dapat melihat kebingungan ini ketika Bernard mengatakan, “Sebagai manusia sejati, Kristus berdoa, menangis, belajar taat, dan menderita. Roh Allah mengendalikan-Nya dan Allah setia kepada rencana-Nya sendiri, tetapi sebagai manusia Yesus harus memperoleh pertolongan dari Roh dan harus belajar taat kepada rencana ilahi.”[33] Konsisten dengan modalismenya, Bernard juga mengajarkan bahwa Pribadi Anak tidak kekal, baik dalam masa lampau, sebelum inkarnasi—ketika (menurut dia) Anak hanya ada sebagai suatu gagasan (firman) dalam pikiran Allah[34]—maupun di masa depan. Katanya, “Ketika alasan-alasan bagi status keanakan itu tidak ada lagi, Allah akan berhenti bertindak dalam peran-Nya sebagai Anak, dan status keanakan itu akan kembali terserap ke dalam kebesaran Allah, yang akan kembali kepada peran-Nya semula sebagai Bapa, Pencipta, dan Penguasa atas segala sesuatu.”[35]

Akhirnya, Oneness Pentakostalisme percaya bahwa orang-orang perlu dibaptis hanya dalam nama Yesus, bukan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Hal ini tentu saja membawa pikiran kita kembali kepada asal mula ajaran ini di retret di Arroyo Seco. Para penganut Oneness menunjuk kepada Matius 28:19 dan penggunaan kata nama dalam bentuk tunggal, yang mencakup Bapa, Anak, dan Roh, untuk menegaskan pandangan mereka. Praktik pembaptisan ini diberi nilai yang sangat besar, sebagaimana dinyatakan oleh Reed: “Sebagai ujian ketaatan yang sejati, tahap kedua ini merupakan saat ketika nama Yesus diikatkan kepada orang yang bertobat. Meskipun konsisten dengan teologinya mengenai nama, tuntutan untuk dibaptis kembali tetap menjadi salah satu pokok perselisihan utama dengan kelompok-kelompok Kristen lainnya.”[36]

Bagian 3: Evaluasi Kritis terhadap Oneness Pentakostalisme

Sebagaimana telah disebutkan di atas, prinsip dan hermeneutik yang menjadi pedoman Oneness Pentakostalisme adalah gagasan bahwa Allah adalah satu dalam pengertian yang mutlak, sehingga tidak memberikan ruang bagi ajaran Tritunggal ortodoks. Bernard berbicara tegas, “trinitarianisme berakar pada paganisme.”[37] Alasan ia mengatakan demikian adalah karena ia memandang Tritunggal sebagai triteisme. Reed menunjukkan hal ini dan dengan tepat menyimpulkan: “Karena tidak memahami kompleksitas bahasa Tritunggal tradisional, OP [Oneness Pentakostalisme] menafsirkan kata ‘Pribadi’ menurut definisi modern tentang seorang manusia sebagai kesatuan.”[38] Kesalahpahaman ini melahirkan sikap yang sebenarnya tidak perlu. Sebagaimana telah disebutkan di atas, Alkitab memberikan ruang yang sangat luas bagi doktrin Tritunggal dan, pada kenyataannya, pandangan ortodoks membutuhkan jauh lebih sedikit perputaran hermeneutis.

Perjanjian Lama, yang menurut Bernard mengajar monoteisme kaku, sebenarnya menanamkan benih-benih pemikiran Tritunggal yang kemudian bertumbuh dalam Perjanjian Baru. Meskipun nama Elohim jelas digunakan dalam beberapa konteks tunggal (Hak. 11:24; 1Sam. 5:7; 1Raj. 11:5, 33; Dan. 1:2), kenyataan bahwa itu kata jamak tentu memberikan ruang bagi pemahaman tentang satu Allah dalam tiga Pribadi. Hal yang sama terlihat dalam penggunaan kata ganti jamak kami/kita ketika Allah berbicara tentang penciptaan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:26), penghakiman-Nya atas manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:22; 11:7), dan pengutusan nabi-Nya (Yes. 6:8). Dalam referensi terakhir ini, jelas terdapat percakapan di antara “kami” dan “kita”.

Hal ini juga terlihat dalam sosok misterius Malaikat Yahweh, yang berbicara sebagai Yahweh, disebut Yahweh, namun pada saat yang sama dibedakan dari-Nya (Kej. 16:7–13; 18:1–21; 19:1–28; Hak. 13:3–21; Mal. 3:1). Selain itu, terdapat setidaknya empat bagian Perjanjian Lama yang dengan jelas membedakan Allah dari Allah (Mzm. 45:6–7; 110:1; Yes. 48:16; Za. 14:5).[39] Jadi, alih-alih memberikan bukti telak bagi monoteisme ketat, “Perjanjian Lama mengandung antisipasi yang jelas terhadap penyataan Tritunggal yang lebih lengkap dalam Perjanjian Baru.”[40]

Tentu saja, apa yang tersirat dan hanya disinggung dalam Perjanjian Lama terlihat dengan sangat jelas dalam Perjanjian Baru. Dan di sinilah Bernard harus berusaha keras untuk menjelaskan berbagai bagian Alkitab yang secara eksplisit bersifat Tritunggal. Tanpa mengulang bagian-bagian yang telah disebutkan sebelumnya, kita dapat memeriksa beberapa teks Tritunggal yang paling eksplisit.

Gambaran mengenai baptisan Yesus dalam Matius 3:16–17 menunjukkan tiga Pribadi yang secara sadar berinteraksi: Allah Bapa berbicara dari surga, Roh Kudus turun, dan Sang Anak dibaptis. Bernard menjelaskan hal ini berdasarkan kemahahadiran Allah, yaitu bahwa Allah Bapa dapat berada di surga, menampakkan diri dalam bentuk seekor merpati, dan hadir sebagai natur ilahi di dalam manusia Yesus pada saat yang sama.[41] Jika kita menerima penjelasannya, apa tujuan dari tindakan semacam itu? Itu akan menjadi kesaksian mengenai diri-Nya sendiri saja—sesuatu yang menurut Kristus sendiri tidak sah sebagai kesaksian (Yoh. 5:30–32).

Jika kita memperhatikan banyak doa Yesus dan persekutuan-Nya yang nyata dengan Bapa-Nya, model Tritunggal memberikan gambaran yang jauh lebih logis, konsisten, dan indah. Pendekatan Bernard adalah memperlakukan kedua natur Kristus seolah-olah keduanya merupakan dua pribadi yang dapat berbicara satu sama lain. Masalahnya adalah Yesus tidak pernah berbicara tentang diri-Nya sebagai dua pribadi. Dalam Yohanes 17, misalnya, bukankah ayat-ayat berikut yang diucapkan kepada Bapa merupakan perkataan Yesus dalam keilahian-Nya?

“Dan sekarang, ya Bapa, permuliakanlah Aku di hadapan-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Yoh. 17:5

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”
Yoh. 17:18

“Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana Aku berada, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku juga berada bersama-sama dengan Aku, supaya mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, karena Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”
Yoh. 17:24

Bernard secara keliru menyimpulkan bahwa jika Allah berdoa kepada Allah, hal tersebut berarti adanya subordinasi ontologis.[42] Namun, dengan mengatakan demikian, ia melewatkan satu hal penting mengenai inkarnasi: Yesus perlu hidup sebagai manusia dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa, mengalami pencobaan dalam segala hal sebagaimana manusia mengalaminya, tetapi tanpa dosa, supaya Ia dapat menggenapi seluruh kebenaran bagi kita (Mat. 3:15), menjadi Imam Besar yang sempurna (Ibr. 4:15), dan mempersembahkan korban yang tidak bercacat kepada Bapa-Nya bagi kita (Ibr. 9:14).

Bernard juga melewatkan inti dari Filipi 2:5–11, yaitu bahwa Yesus yang telah ada sebelum segala sesuatu, sebagai Allah, memilih untuk merendahkan diri-Nya demi keselamatan kita dan bahwa setelah tugas-Nya selesai, Allah Bapa memastikan bahwa Ia dihormati oleh seluruh ciptaan dengan Nama yang memang sudah menjadi milik-Nya—Yahweh (Yoh. 8:58[43]). Ini merupakan contoh lain bahwa ajaran yang bersaing dengan pandangan ortodoks kehilangan keindahan dan keagungan yang terkandung dalam kebenaran tersebut.

Meskipun ada begitu banyak persoalan yang dapat dikritik di sini, demi keterbatasan waktu, lebih baik kita mengakhiri bagian ini dengan pemeriksaan singkat terhadap beberapa ayat yang digunakan oleh para pendukung teologi Oneness Pentakostalisme untuk membangun argumen mereka.

Matius 28:19

Mengenai ayat yang sangat terkenal ini, Bernard berkata, “Ayat Kitab Suci ini tidak mengajarkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga pribadi yang terpisah. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa gelar Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjuk kepada satu nama dan karena itu kepada satu Allah.”[44] Meskipun ia dengan tepat menunjukkan bahwa kata nama berbentuk tunggal, hal ini sama sekali tidak merupakan bukti telak bagi teologi Oneness. Ia melewatkan sebuah detail penting lainnya dalam formula ini, yaitu bahwa kata sandang tertentu dipakai di depan nama setiap Pribadi, dan hal ini menegaskan perbedaan mereka. Crowe mengamati, “Penting bahwa nama dalam bentuk tunggal mencakup Bapa, Anak, dan Roh. Selain itu, kata sandang tertentu diulang sebelum masing-masing Pribadi Tritunggal untuk menegaskan perbedaan setiap Pribadi.”[45] Jadi, alih-alih menunjukkan bahwa nama tersebut adalah Yesus dan bahwa Pribadi-Pribadi itu hanyalah modus, ayat ini justru menyampaikan doktrin Tritunggal: Pribadi-Pribadi Tritunggal yang berbeda benar-benar adalah satu. Penalaran yang sering digunakan oleh para pendukung Oneness, bahwa baptisan dalam nama Yesus di seluruh kitab Kisah Para Rasul membuktikan pandangan mereka, lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa “formula” ini tidak dimaksudkan untuk diperlakukan sebagai sebuah formula atau ritual.[46]

Yesaya 9:6

Penyebutan Kristus sebagai “Bapa yang kekal” dalam Yesaya 9:6 dianggap sebagai bukti kuat bahwa Kristus akan menjadi “Bapa yang berinkarnasi.”[47] Namun, kesimpulan ini bertentangan dengan segala sesuatu yang telah kita lihat mengenai pentingnya gelar Bapa dan Anak, serta hubungan yang jelas antara keduanya. Lebih tepat jika istilah ini tidak dipahami sebagai rujukan kepada Bapa dalam peran-Nya dalam Tritunggal, melainkan, dalam konteks kitab Yesaya, sebagai gambaran mengenai karakter pemerintahan Mesias, yang berhubungan dengan rakyat-Nya dengan “perhatian, pemeliharaan, dan disiplin,”[48] sebagaimana karakteristik tersebut terlihat dalam penggunaan istilah ini di seluruh Perjanjian Lama (Mzm. 65:5; 103:13; Ams. 3:12; Yes. 63:16; 64:8). Ini merupakan pendekatan yang lebih baik daripada mencabut ayat ini dari konteks dan menggunakannya sebagai ‘bukti’ (proof text).

Yohanes 10:30

Pengakuan Kristus, “Aku dan Bapa adalah satu,” tidak menimbulkan masalah bagi ajaran tentang Tritunggal. Bahkan, dalam konteksnya, Kristus jelas sedang berbicara tentang kesatuan, karena uraian yang mendahului ayat 30 berbicara tentang Bapa yang memberikan domba-domba (orang-orang pilihan) kepada Sang Anak dan membedakan antara perlindungan Bapa (tangan Bapa) dan perlindungan-Nya sendiri (tangan-Ku). Kita melihat Ia menggunakan gagasan yang sama dalam pasal 17, ketika Ia berdoa, “supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita adalah satu” (Yoh. 17:22), dan kemudian menggambarkan perichoresis (saling mendiami) antara Bapa dan diri-Nya sendiri, sebagaimana yang dilakukan-Nya dalam pasal 10 (Yoh. 10:38). Perbandingan yang dibuat Yesus antara kesatuan yang dialami-Nya bersama Bapa dan kesatuan yang dialami oleh orang-orang percaya dengan jelas menunjuk kepada kesatuan, bukan ketunggalan Pribadi. Bahkan dalam perichoresis, Pribadi-Pribadi tersebut tetap berbeda; jika tidak demikian, perbandingan tersebut tidak bermakna.

Yohanes 14:9

Perkataan Kristus kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa,” jika dipahami dalam konteks segala sesuatu yang telah dan akan dinyatakan dalam Injil Yohanes, tidak mungkin berarti bahwa Yesus adalah Bapa. Hanya beberapa ayat kemudian, Yesus berbicara dengan cara yang secara jelas membedakan Pribadi-Pribadi ilahi. Menariknya, dalam pernyataan-pernyataan Kristus sebelumnya yang serupa, Ia berkata, “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 12:45), dan “Barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 13:20). Keduanya dengan jelas membedakan Kristus dari Bapa-Nya. Jadi, maksudnya bukan bahwa Kristus adalah Bapa, melainkan bahwa “Yesus adalah penyataan Allah yang paling sempurna dan manifestasi Allah yang dapat dilihat” (1:18).[49]

Kolose 2:9

Terakhir, para penanut Oneness menggunakan Kolose 2:9 untuk berbicara tentang Kristus sebagai suatu modus Allah—sebuah tubuh manusia yang didiami oleh Bapa/Roh. Bernard berulang kali menggunakan ayat ini. Katanya, “Yesus bukan hanya sebagian dari Allah, tetapi seluruh Allah berdiam di dalam Dia.”[50] Kita mungkin menggunakan bahasa perichoresis yang serupa, tetapi bukan itu yang dimaksud Bernard. Ia tidak percaya pada Pribadi-Pribadi, melainkan percaya bahwa Kristus memiliki tubuh manusia yang di dalamnya Bapa/Roh berdiam sebagai natur ilahi. Melick menunjukkan bahwa sang rasul sangat berhati-hati dalam memilih bahasanya agar tidak memberikan gambaran yang bersifat modalis. Ia berkata:

Paulus bermaksud mengatakan bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus. Ungkapan ini tidak biasa, tetapi hubungan antara Allah dan manusia tidak dapat diungkapkan dengan baik dalam bahasa manusia. “Kepenuhan ke-Allahan” merupakan cara Paulus menyatakan bahwa Yesus sepenuhnya adalah Allah. Di sisi lain, Paulus menghindari bahasa yang bersifat modalis. Kepenuhan tersebut menunjuk kepada kelengkapan natur ilahi, tetapi tidak berarti bahwa Kristus adalah segala sesuatu yang ada pada Allah. Bahkan, kata yang dipilih Paulus untuk Allah menyatakan keilahian, bukan natur ilahi. Yesus sepenuhnya adalah Allah, tetapi Ia tidak menghabiskan seluruh dimensi keilahian. Bapa dan Roh juga sama-sama ilahi.[51]

Moo sangat membantu, karena menunjukkan pentingnya istilah katoikeō (berdiam) sebagai suatu kiasan kepada Mazmur 68:16, yang menunjukkan bahwa “Allah dalam seluruh kepenuhan-Nya tidak berdiam di dalam sebuah bangunan dan menyatakan diri-Nya melalui bangunan itu, melainkan berdiam di dalam sebuah tubuh.”[52] Jadi, ayat ini pada dasarnya berbicara tentang inkarnasi, dengan tambahan bahwa penggunaan kata kerja katoikeō dalam bentuk masa kini berbicara tentang keadaan Kristus sekarang, setelah kenaikan-Nya, dengan tubuh manusia yang telah dimuliakan. Jadi, sekali lagi, kita melihat bahwa ayat-ayat yang digunakan oleh para penganut teologi Oneness diperlakukan sebagai bukti, padahal tidak diteliti dengan tepat.

 

KESIMPULAN

Oneness Pentakostalisme bermula dari sebuah pertemuan kebangunan rohani yang tidak begitu dikenal, dengan menarik kesimpulan yang tidak perlu mengenai baptisan dalam nama Yesus. Berdasarkan kesimpulan tersebut, kemudian dibangunlah suatu teologi yang keliru dengan memaksakan pandangan yang secara ketat memahami Allah sebagai satu Pribadi ke atas keseluruhan Kitab Suci, serta menyatakan bahwa doktrin Tritunggal ortodoks berakar pada agama pagan.

Esai ini telah menunjukkan dengan jelas bahwa akar dari perumusan doktrin Tritunggal di kemudian hari sepenuhnya alkitabiah. Para teolog mula-mula mencari bahasa yang dapat mengungkapkan keseluruhan dari ajaran Alkitab mengenai hakikat Allah sebagai satu Allah dengan tiga Pribadi yang berbeda, yang masing-masing sepenuhnya adalah Allah. Data Alkitab mendukung bahwa Bapa adalah kekal dan pribadi, demikian pula Anak dan Roh Kudus. Ketiganya berelasi satu sama lain dalam kasih opera ad intra dan memiliki peran opera ad extra yang sama sekali tidak bertentangan dengan realitas ontologis mereka.

Kita juga telah melihat bahwa ajaran Perjanjian Lama mengenai hakikat Allah, meskipun tidak sejelas Perjanjian Baru, memberi ruang yang cukup bagi penyataan selanjutnya mengenai Tritunggal. Oleh karena itu, tidak ada kebutuhan untuk memaksakan monoteisme ekstrem ke dalam berbagai bagian yang sebenarnya mengandung kebenaran Tritunggal.

Ayat-ayat yang telah digunakan sebagai ‘bukti’ untuk mendukung ajaran Kesatuan telah terbukti sama sekali tidak bertentangan dengan doktrin Tritunggal ketika diperiksa dalam konteksnya dan ditafsirkan secara konsisten dengan keseluruhan dari data Alkitab.

Oneness Pentakostalisme menyatakan, “Tidak pernah ada misteri mengenai ‘pribadi-pribadi’ dalam ke-Allahan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa hanya ada satu Allah, dan hal ini mudah dipahami oleh semua orang.”[53] Namun, mereka tidak berhenti sejenak untuk mempertimbangkan bahwa gambaran yang diberikan kepada kita dalam Kitab Suci berada di luar jangkauan penjelasan yang sederhana. Agustinus memberikan perkataan yang lebih bijaksana dan rendah hati dalam ungkapannya yang terkenal, si comprehendis, non est Deus (“Jika engkau memahaminya, itu bukanlah Allah.”)[54]

Doktrin Tritunggal menyajikan gambaran yang sepenuhnya alkitabiah dengan memperhitungkan seluruh data yang telah Allah nyatakan mengenai diri-Nya. Gambaran yang dilukiskan bagi kita, di satu sisi, sungguh mengagumkan dan melampaui daya pikir manusia, tetapi di sisi lain, sepenuhnya indah. Teologi Oneness tidak mendekati topik ini dengan kehati-hatian yang memadai dan, sayangnya, kehilangan keindahan dari pengenalan akan Allah sebagaimana Ia telah menyatakan diri-Nya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Augustine, Sermons (51–94), diterjemahkan oleh Edmund Hill, The Works of Augustine III/3, Hyde Park, New York: New City Press, 1991.

Berkhof, L. Systematic Theology. Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1938.

Bernard, David K. The Oneness of God. Hazelwood, Missouri: Word Aflame Press, 1983, revisi 2001.

Carson, D. A. The Gospel according to John. The Pillar New Testament Commentary. Leicester, England; Grand Rapids, MI: Inter-Varsity Press; W. B. Eerdmans, 1991.

Crowe, Brandon D. dan Michael Reeves. The Essential Trinity: New Testament Foundations and Practical Relevance. P&R Publishing. Edisi Kindle.

Grudem, Wayne. Systematic Theology. Leicester: IVP, 1994.

Buchsel, F. “Monogenes,” dalam Gerhard Kittle, Theological Dictionary of the New Testament. Grand Rapids: Eerdmans, 1967.

Klink, Edward W. III. John. Diedit oleh Clinton E. Arnold, Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2016.

Letham, Robert. The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship. Edisi revisi dan diperluas. P&R Publishing. Edisi Kindle.

Lloyd-Jones, D. Martyn. Great Doctrines of the Bible, Vol. 1: God the Father, God the Son. Wheaton, IL: Crossway, 1998.

MacArthur, John dan Richard Mayhue. Biblical Doctrine. Wheaton: Crossway, 2017.

MacArthur, John F. Jr. Matthew. Vol. 4, MacArthur New Testament Commentary. Chicago: Moody Press, 1985–1989.

Melick, Richard R. Philippians, Colossians, Philemon. Vol. 32, The New American Commentary. Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1991.

Moo, Douglas J. The Letters to the Colossians and to Philemon. The Pillar New Testament Commentary. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Co., 2008.

Morris, Leon. The Gospel according to John. The New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1995.

Motyer, J. Alec. Isaiah: An Introduction and Commentary. Vol. 20, Tyndale Old Testament Commentaries. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1999.

Pao, David W. Colossians and Philemon. Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2012.

Reed, David A. “Oneness Pentecostalism,” dalam The New International Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements, diedit oleh Stanley M. Burgess. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2003.

Reymond, Robert L. A New Systematic Theology of the Christian Faith. Nashville: Thomas Nelson, 1998.

Ryrie, C. C. Basic Theology: A Popular Systematic Guide to Understanding Biblical Truth. Chicago, IL: Moody Press, 1999.

Smith, Gary V. Isaiah 1–39. Diedit oleh E. Ray Clendenen, The New American Commentary. Nashville: B & H Publishing Group, 2007.

Wellum, Stephen J. God the Son Incarnate. Wheaton: Crossway, 2016.

  

Artikel

Setiawan, Hanny dan Joseph Christ Santo. “Kajian Historis Teologis Oneness Pentecostalism: Studi Kasus.” MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 2, no. 1 (2020): 32–49. https://doi.org/10.52220/magnum.v2i1.68

 

[1] D. Martyn Lloyd-Jones, Great Doctrines of the Bible, Vol. 1: God the Father, God the Son (Wheaton, IL: Crossway, 1998), 294. Tulisan miring dari penulis.

[2] David K. Bernard, The Oneness of God, Word Aflame Press (Hazelwood, Missouri, 1983, rev. 2001), 93.

[3] Robert Letham, The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship, Revised and Expanded (P&R Publishing, Kindle Edition), 68. Kutipan di dalamnya berasal dari Wainwright.

[4] Bernard, The Oneness of God, 173.

[5] Ilustrasi Tritunggal sebagai semacam keluarga tentu dapat memberikan kesan seperti ini.

[6] John MacArthur dan Richard Mayhue, Biblical Doctrine (Crossway, Wheaton, 2017), 174.

[7] MacArthur dan Mayhue, Biblical Doctrine, 195. Lihat juga J. M. Boice, Foundations of the Christian Faith: A Comprehensive & Readable Theology (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986), 111.

[8] Wayne Grudem, Systematic Theology (IVP, Leicester, 1994), 544.

[9] Daftar atribut dan referensinya terlalu panjang untuk dimasukkan dalam esai ini. Untuk daftar yang bermanfaat, meskipun tidak lengkap, lihat MacArthur & Mayhue, Biblical Doctrine, 257.

[10] Edward W. Klink III, John, ed. Clinton E. Arnold, Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2016), 87.

[11] Leon Morris, The Gospel according to John, The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1995), 101.

[12] D. A. Carson, The Gospel according to John, The Pillar New Testament Commentary (Leicester, England; Grand Rapids, MI: Inter-Varsity Press; W. B. Eerdmans, 1991), 135.

[13] F. Buchsel, “Monogenes,” dalam Gerhard Kittle, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans, Grand Rapids, 1967), 741, catatan kaki 16. Tulisan miring ditambahkan oleh penulis.

[14] Stephen J. Wellum, God the Son Incarnate (Crossway, Wheaton, 2016), 215–217.

[15] MacArthur dan Mayhue, Biblical Doctrine, 334.

[16] Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Thomas Nelson, Nashville, 1998), 313.

[17] Dirangkum dari MacArthur & Mayhue, Biblical Doctrine, 334–335.

[18] Istilah ini berarti fungsi internal Tritunggal.

[19] Fungsi eksternal Tritunggal.

[20] Robert Letham, The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship, 240.

[21] Lihat MacArthur dan Mayhue, Biblical Doctrine, 201–202.

[22] Gregorius dari Nazianzus, sebagaimana dikutip dalam Letham, The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship, 451–452.

[23] David A. Reed, “Oneness Pentecostalism,” dalam The New International Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements, ed. Stanley M. Burgess (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2003), 936.

[24] Ibid., 936.

[25] Ibid., 940.

[26] Ibid., 940.

[27] Hanny Setiawan dan Joseph Christ Santo, “Kajian Historis Teologis Oneness Pentecostalism: Studi Kasus,” MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen 2, no. 1 (2020): 32–49, https://doi.org/10.52220/magnum.v2i1.68

[28] Bernard, The Oneness of God, 18.

[29] David A. Reed, “Oneness Pentecostalism,” 941.

[30] Bernard, The Oneness of God, 34.

[31] Ibid., 38.

[32] Bernard, The Oneness of God, 49.

[33] Ibid., 68.

[34] Ibid., 73.

[35] Ibid., 75.

[36] David A. Reed, “Oneness Pentecostalism,” 943.

[37] Bernard, The Oneness of God, 177.

[38] David A. Reed, “Oneness Pentecostalism,” 941.

[39] Ryrie memberikan lebih banyak contoh dalam C. C. Ryrie, Basic Theology: A Popular Systematic Guide to Understanding Biblical Truth (Chicago, IL: Moody Press, 1999), 59.

[40] L. Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1938), 86.

[41] Bernard, The Oneness of God, 117.

[42] Bernard, The Oneness of God, 120.

[43] “Aku telah ada” di TB, lebih akurat diterjemahkan “Akulah Aku” (Ego Eimi). Bahasa yang sama digunakan di Septuaginta, ketika Allah memperkenalkan diri sebagai Yahweh (Akulah Aku). Lihat versi-versi bahasa Inggris dan catatan kaki di versi TSI.

[44] Bernard, The Oneness of God, 93–94.

[45] Brandon D. Crowe dan Michael Reeves, The Essential Trinity: New Testament Foundations and Practical Relevance (P&R Publishing, Kindle Edition), 45.

[46] John F. MacArthur Jr., Matthew, vol. 4, MacArthur New Testament Commentary (Chicago: Moody Press, 1985–1989), 344.

[47] Bernard, The Oneness of God, 87.

[48] J. Alec Motyer, Isaiah: An Introduction and Commentary, vol. 20, Tyndale Old Testament Commentaries (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1999), 102. Lihat juga Gary V. Smith, Isaiah 1–39, ed. E. Ray Clendenen, The New American Commentary (Nashville: B & H Publishing Group, 2007), 241.

[49] Edward W. Klink III, John, 620.

[50] Bernard, The Oneness of God, 43.

[51] Richard R. Melick, Philippians, Colossians, Philemon, vol. 32, The New American Commentary (Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1991), 255.

[52] Douglas J. Moo, The Letters to the Colossians and to Philemon, The Pillar New Testament Commentary (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Co., 2008), 193–194. Lihat juga David W. Pao, Colossians and Philemon, Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2012), 161.

[53] Bernard, The Oneness of God, 48.

[54] Augustine, Sermons (51–94), diterjemahkan oleh Edmund Hill, The Works of Augustine III/3 (New City Press, Hyde Park, 1991), Sermon 52.